Tuesday, May 13, 2008

Berburu Hantu di Parijs van Java


Wisata

Berburu Hantu di Parijs van Java…

(by : Yulvianus Harjono)

Bandung kota yang kaya legenda dan cerita hantu. Desas-desus yang terpelihara dari satu generasi ke generasi lainnya, puluhan hingga ratusan tahun. Mendengarnya saja dibuat penasaran hingga bulu kuduk merinding. Bagaimana jika mengunjunginya?...

Sabtu (12/4) lalu, Bandung Trails, lembaga nirlaba yang kerap menyelenggarakan wisata pusaka di Bandung menyelenggarakan acara unik bertajuk URBAN-dung Legend Walking Tour. Sesuai namanya, ini merupakan tur malam hari ke tempat-tempat misteri, legenda, dan cerita berhantu di Bandung. Rute sejauh 2,3 kilometer. Tur kedua akan dilakukan pada Sabtu (19/4) ini.

Kegiatan ini diklaim pertama kalinya dilakukan di Bandung, bahkan Indonesia. Pesertanya pun membludak. Mencapai 135 orang. Padahal, awalnya dibatasi 100 orang. Dinginnya udara Bandung malam hari tidaklah menyurutkan muda-mudi Bandung untuk ikut kegiatan ini. ”Mudah-mudahan spooky (menyeramkan),” tutur Inda Sari (27), salah seorang peserta antusias di sela-sela briefing di Taman Belitung.

Ke-130 perserta dibagi ke dalam 5 lima grup. Tiap-tiap grup jumlahnya 28 orang plus satu pemandu. Jumlahnya itu harus genap. Rian (28), tour guide Tim I berkali-kali mengingatkan, selama tur, peserta tidak boleh berkata kotor atau mengumpat di titik-titik yang dikunjungi. Pakem yang biasa disampaikan turun-temurun ketika kita mengunjungi tempat-tempat ”angker”.

Tepat pukul 19.15 WIB, Tim I berangkat dari Taman Belitung. Tidak perlu lama berjalan, hanya 10 meter dari tempat pemberangkatan, rombongan mengunjungi hot spot (titik angker) pertama, yaitu SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung di Jalan Belitung. Menurut cerita, sekolah favorit yang dulunya bernama Hooge Burgere School (HBS) ini ditunggui mahklus halus bernama Nancy.

Wanita Belanda ini dipercaya bunuh diri di sekolah itu dan kerap menampakkan diri. Orang yang berjalan di depan sekolah ini, jika ”beruntung” bisa melihat penampakan Nancy di jendela bagian atas. ”Kadang terdengar suara orang bermain piano musik klasik di ruangan (musik). Tetapi, tidak ada orangnya,” tutur Dian (23), salah seorang peserta yang juga alumnus SMAN 5 Kota Bandung.

Memandangi dari luar jendela-jendela kayu dengan temaram lampu yang kurang terang di tengah kegelapan malam hari itu sungguh memacu adrenalin kita, apalagi jika menyimak baik cerita sang pemandu. Takut-takut, sungguh melihatnya! Sebelum peserta berimajinasi berlebihan, rombongan bergerak dengan berjalan kaki ke Taman Maluku.

Di taman kota ini tersimpan Patung H.C. Verbraak, pastor Belanda yang bertugas di Aceh pada 1870 dan beberapa daerah lain. Konon, tepat di bawah monumen itu dibuat merupakan pusara dirinya. Ia tewas di tempat menyusul kecelakaan pesawat. Berdasarkan cerita setempat, patung berwarna hitam legam setinggi 4 meter ini bisa bergerak sendiri!

Kemudian, usai menyeberangi pusat keramaian di Jalan R.E Martadinata, peserta mampir ke titik misteri lainnya, yaitu di belakang (backyards) kompleks SMA Aloysius. Rian menceritakan, di suatu tempat, yaitu ruangan bawah tanah di sekolah ini merupakan bekas semacam kamp konsentrasi tentara Belanda. Digunakan tentara PETA (Perjuangan Tanah Air) untuk menyiksa tentara Belanda. Konon, ruangan ini memiliki akses tembus hingga ke Jalan Tamansari (2 kilometer dari sana).

Hantu ambulance

Yang ditunggu-tunggu, rombongan kemudian singgah ke Jalan Bahureksa No. 15. Di rumah inilah terparkir ambulance tua berbalut terpal coklat yang kini terkenal seantero Indonesia dan dijadikan ide film ”Hantu Ambulance”. Sempat muncul kejadian aneh saat shooting film ini. Ketika terpal ambulance tua itu dibuka oleh paranormal Ki Kusumo, seorang kru trance (kerasukan) dan bohlam lampu kamera pecah. Desas-desus lain yang muncul, bekas rumah kos ini merupakan tempat prostitusi. Hantu ambulance adalah alibi untuk mengelabui warga.

Di Bandung sendiri sebetulnya masih banyak terdapat titik-titik misteri lain yang menjadi urban legend. Diantaranya, rumah angker di Rancabentang, Bumi Sangkuriang, sumur keramat Sumur Bandung dan Palaguna, hingga ruang bawah tanah Museum Asia Afrika. Kebanyakan tempat ini merupakan heritage (cagar budaya) yang dilindungi.

Menurut Koordinator Bandung Trails Teguh Amor Patria, legenda dan cerita hantu itu merupakan aset kekayaan budaya intengible (tidak terlihat) kota. Di banyak negara, aset-aset ini menjadi daya tarik lain wisata. Percaya atau tidak, semua berpulang kepada rasionalitas warga. Yang pasti, cerita itu akan terus bertahan, meski dengan ”warna”-nya sendiri.(Kompas Copyright)

No comments: