Tuesday, May 13, 2008

Kopi, Cita Rasa Kaum Muda


Kopi, Cita Rasa Kaum Muda

by : Yulvianus Harjono/a15

Dewasa ini, kopi, minuman paling populer di dunia, bukan lagi sekedar pemuas dahaga. Di dalamnya terkandung hobi, simbol identitas komunal, hingga bagian gaya hidup kaum kosmopolitan. Kopi yang dulu hanya ditemui di warung pinggir jalan kini merambah ke mall hingga kafe.

Sejak pertama kali diperkenalkan di Turki, 1475 Masehi, coffee house (kafe kopi) tumbuh subur di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Makin banyak orang doyan menyeruput kopi, meski sekedar untuk teman ngobrol atau nongkrong. Di dunia, rata-rata sekitar 400 miliar cangkir kafe habis dikonsumsi tiap tahunnya.

Di Bandung, berbagai kedai, gerai dan kafe kopi pun hadir menjamur. Mulai yang tradisional nan khas macam Kopi Aroma di Banceuy hingga yang eksklusif ala franchise The Coffee Bean & Tea Leaf dan Starbucks. Beda gerai, berbeda pula cita rasa dan identitas komunal yang diperoleh. Tidak mengherankan jika kopi kini sebagai ”buruan” kaum urban.

Tengok saja di Roemah Kopi, Dago, Bandung. Meski lokasinya cukup terpencil, ini salah satu tempat favorit mereka, terutama kaum muda, yang doyan menyeruput kopi. Selain menyajikan kopi bercita rasa internasional macam espresso, cappucino atau black coffee, Roemah Kopi memanjakan pengunjung dengan berbagai varian kopi racikan.

Campuran susu segar dan rum krim pada summer wind misalnya, memberi sensasi unik. Karakter khas kopi robusta yang pahit mampu diredam cita rasa manis-lembut yang terasa mantap di lidah para pengopi pemula. Bagi yang menyukai tantangan dan keunikan jangan lupa mencicipi sunset stream. Bagaimana tidak unik, varian kopi cappuccino yang disajikan panas ini dibalut es krim vanila pada bagian toping-nya. Membuat pengunjung penasaran menghabiskan sajian yang kontradiktif ini.

Di tempat ini, tersedia 31 varian kopi racikan. Kopi campuran ini, menurut Myrna W.Irawan, pemilik Roemah Kopi, lebih digandrungi anak muda. Sementara, kopi-kopi yang reguler, murni, berasa pekat macam black coffee cenderung dinikmati mereka yang betul-betul hobi. ”Mereka ini biasanya berusia 40 tahun ke atas. Menyukai kopi dari citarasa murni dan aroma khasnya,” ujar Myrna. Di tempat ini secangkir kopi dijajakan dengan harga bervariasi mulai Rp 11.000 hingga Rp 26.000.

Internet

Fenomena kian digandrunginya kopi oleh kaum muda juga terlihat di Kafe Ngopi Doeloe, Jalan Banda, Bandung. Kafe ini terang-terangan menjadikan mahasiswa sebagai pangsa pasarnya. Italian Soda, campuran kopi espresso dengan soda dan sirup berbagai rasa, menjadi andalannya.

Variannya dibuat dengan mana-nama yang unik. Sebut saja Ice Monkey yang merupakan campuran kopi, soda, sirup pisang, mocca, dan susu atau Black Forest Coffee, campuran kopi espresso panas dengan sirup tiramisu, rum, vanila, dan mocca. Yang tidak kalah unik, pengunjung di tempat ini dapat berselancar ria di internet-fasilitas tambahan yang disediakan pengelola. Harganya pun terjangkau, Rp 8.000 hingga Rp 19.500.

Lain padang lain pula belalang. Black Canyon Coffee di Parijs Van Java sengaja mengandalkan latte art, yaitu kopi cappuccino yang ditaburi hiasan busa susu di atasnya. Hiasan berupa gambar daun, hati, bunga, atau semanggi yang membutuhkan teknik dan keahlian khusus barista (peramu kopi)-nya menjadi ”ikon” untuk menarik para konsumen muda..

Berbeda dengan kedua kafe sebelumnya yang lebih mengandalkan produk kopi lokal, kafe frenchise ini mempercayakan bahan baku dari luar. ”Kami mengunggulkan kopi arabika yang diimpor langsung dari Thailand,” ujar Sales Executive dan Marketing Black Canyon Coffee Reny Agustina sedikit memberi bocoran.

Arabika dan Robusta merupakan dua jenis kopi yang dibudidayakan dan masih digandrungi di Indonesia. Kopi arabika terkenal akan keharumannya dan kadar kafeinnya yang rendah dari robusta. Namun, jenis ini memiliki tingkat keasaman yang lebih tinggi. Harga robusta lebih murah dibanding jenis arabika. Kopi arabika rata-rata dijual Rp 50.000 per kilogram, sedangkan robusta seharga Rp 40.000 per kilogram.

Di Pabrik Kopi Aroma, biji kopi sengaja disimpan bertahun-tahun untuk mengurangi kadar keasamannya. ”Delapan tahun untuk jenis arabika dan lima tahun untuk robusta. Ini agar peminumnya tidak kembung,” ujar Widyapratama, pemiliknya. Atas dasar kekhasan itu, kopi buatan pabrik yang terletak di Jalan Banceuy ini digandrungi penikmat kopi, baik dalam maupun luar negeri. Termasuk, menjadi pemasok utama kopi mentah di Bandung.(Kompas Copyright)

No comments: