Showing posts with label Lifestyle. Show all posts
Showing posts with label Lifestyle. Show all posts

Sunday, July 13, 2008

Menguji Kesetiaan Merpati Lewat Balap



Menguji Kesetiaan Merpati Lewat Balap

Suasana tiba-tiba menjadi riuh begitu ”Tupai Jordan” menginjakkan kakinya di matras. Ia hanya berselisih cepat sekitar 1 detik dari lawannya : ”Limper”. Kedua nama ini disegani di kalangan penggemar burung merpati di wilayah Muararajeun, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung.

Secepat laju merpati pula, air dari ember menyambangi sang joki dan pemiliknya. Tiada yang lebih istimewa selain prosesi penyiraman air ini untuk ”menghormati” sang pemenang. Demikian cuplikan Lomba Balap Merpati yang diadakan puluhan penggemar burung merpati di Lapangan Baeli, Muararajeun, Minggu (6/7) siang.

Tiap dua minggu sekali, satu-satunya ruang terbuka di wilayah padat pemukiman penduduk ini dipadati para penggemar burung merpati tinggi, yaitu jenis diperlombakan berdasarkan ketangkasannya terbang cepat dan tinggi. Pemenang ditentukan dari berhasil tidaknya ia melesat cepat ke matras, yaitu target yang ditentukan.

Namun, sang merpati harus melewati bagian atas rintangan berbentuk segi empat untuk qualified. Padahal, batas rintangannya hanya seluas 11 x 11 meter persegi. Artinya, dalam kecepatan terbang 60 kilometer per jam, merpati bermanuver terbang 90 derajat ke bawah menuju matras. Cepat saja, tetapi gagal melewati rintangan, akan jadi percuma.

Hebatnya, burung merpati yang diterbangkan jauh dari jarak 1,75 kilometer ini dapat kembali ke tempat sasaran dengan tepat. Burung yang sudah jago, dihargai sangat tinggi. Tupai Jordan yang berumur dua tahun misalnya, pernah ditawar Rp 5 juta. Ia telah memenangkan lomba ini berkali-kali. Jika bisa menang lomba ”Perang Bintang” atau jago-jagonya merpati, harga akan terus meningkat mencapai puluhan juta rupiah.

Menurut Joy (41), penggemar merpati tinggi, diperlukan bakat si burung ditambah latihan, guna menghasilkan kemampuan bermanuver cepat dan tepat sasaran seperti yang dibutuhkan dalam lomba. ”Sejak umur satu tahun, burung dilatih dan dibiasakan diadu,” ujarnya. Agar dapat tepat sasaran, digunakan ”pemancing” yang tidak lain merpati betina sebagai pasangannya.

Tidak pernah ingkar janji

”Merpati tidak pernah ingkar janji. Ia akan selalu kembali ke pasangannya,” ucap Joy. Ucapannya memang beralasan. Merpati dikenal sebagai hewan monogami. Pasangan hanya sekali seumur hidup. Merpati tinggi atau balap biasanya telah dipasang-pasangkan mulai umur 6 bulan. Jika suatu ketika sang betina mati, mau tidak mau harus dicarikan pengganti yang sama baik bentuk, warna, ukuran, dan jenisnya. Kandangnya pun dibuat sepaket (bertingkat).

Burung merpati (columbia livia), menurut hasil riset Tim Guilford, peneliti dari Universitas Oxford, memiliki kemampuan navigasi alami melalui bantuan gravitasi bumi dan cahaya matahari. Layaknya alat global positioning system (GPS) yang berbasis satelit di kendaraan bermotor. Inilah yang menjawab mengapa merpati bisa menentukan lokasi rumah dan pasangannya secara tepat.

Menurut Abah Ajim, Ketua Paguyuban Penggemar Merpati Baeli, tradisi lomba merpati di Baeli ini diturunkan sejak lama. Merpati menjadi alternatif hiburan murah dan menyenangkan. Komunitas penggemar merpati di Baeli ini mencapai 150 orang. Mereka terdiri dari beragam profesi mulai pengusaha sablon, tukang jahit, satpam, polisi, penjaga warung, sampai tukang jajanan. Mereka berdatangan dari berbagai daerah di Bandung.

Flu burung

Dalam sekali perlombaan, pemenang bisa membawa pulang hadiah berupa uang tabungan Rp 500 ribu atau televisi 21 inci. Biaya pendaftaran lomba Rp 16 ribu. Namun, ia membantah, hobi ini ibaratnya judi. ”Hadiah itu mah sekedar hiburan. Kalau merpati kita bisa juara terus kan otomatis harganya mahal. Dan, bangga,” ujar Ajim.

Mengingat berharganya merpati, pemeliharannya pun tidak sembarangan. Burung ini pun diberi suplemen berupa jamu-jamuan sebelum bertanding. Juga, rutin divaksin tiap tiga bulan sekali. Kandangnya pun dibersihkan tiap minggu. Tujuannya itu menjaga kebugaran merpati sekaligus menghindari flu burung.

Yogi Aditya (20), mewakili kaum remaja, pun tidak ragu menekuni hobi merpati ini. ”Lebih positif daripada hobi yang macam-macam (negatif),” tutur mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Bandung ini. Sebuah bukti, hobi ini melintasi batas usia, golongan ekonomi, dan wilayah.(Yulvianus Harjono)

Friday, May 23, 2008

Cara Instant Tenar di Jagat Maya


Cara Instant Tenar di Jagat Maya

(by : Yulvianus Harjono)

Tampil atau terkucil. Demikian pameo tegas yang muncul di era cyber atau yang disebut pula globalisasi 3.0 (generasi ketiga) ini. Siapa saja bisa populer, terkenal, dalam waktu singkat melalui jaringan sosial yang terbangun di dunia maya.
Band indie asal Bandung, Alone at Last, yang terakhir kali tampil memikat dalam acara LA Light Indiefest beberapa bulan lalu, patut berbangga hati. Klip video ”Amarah Senyum dan Airmata” yang berdurasi 4 menit 2 detik itu tampil sebagai salah satu klip terpopuler di situs pemutar video ternama : YouTube (
www.youtube.com). Diakses oleh 23.293 pengunjung dalam waktu kurang dari satu tahun sejak video itu di-posting.
Dibandingkan video Lim Jeong-hyun yang sangat fenomenal, dimana diakses 9 juta netter di seluruh dunia hanya dalam waktu kurang setengah tahun di situs yang sama, prestasi Alone at Last yang mengusung musik beraliran Emo (emosional) ini memang masih sangat jauh. Namun, keberadaannya mampu mengalahkan klip dari band-band ternama asal Bandung macam She, Nineball, dan The Changcuters.
Sebagai salah satu situs video sharing, akhir-akhir ini YouTube tengah naik daun.
Berdasarkan riset ComScore (lembaga pemeringkat situs) pada Mei 2006, popularitas situs ini sangatlah cepat. Dalam satu bulan itu, pengunjung mencapai 12,6 juta. Hampir saja menyamai perolehan Facebook (www.facebook.com), salah satu situs pencari kawan asal Amerika Serikat, yaitu dengan tingkat kunjungan 14 juta orang.
Pemanfaat terbesar layanan video upload secara gratis ini mayoritas grup band, termasuk juga di Bandung. Band yang merasakan besarnya manfaat layanan pembentuk jaringan di dunia maya ini salah satunya The Super Insurgent Group of Intemperance Talent (The SIGIT). Band yang bermarkas di sebuah daerah di Jalan Pahlawan, Bandung, ini berhasil menggandeng label asing asal Australia, FFCUTS & Caveman!, semata-mata akibat jasa situs MySpace (www.myspace.com).
Menurut Manajer The SIGIT, Gino Herryansyah (26), major label negeri kanguru itu tertarik mengikat kontrak rekaman dengan The SIGIT pada tahun 2006 setelah mereka melihat posting demo video yang di-upload di situs Myspace. Lewat situs ini pula mereka dipincut sebuah lembaga promotor di Inggris untuk tampil di negeri itu. Secara rutin, The SIGIT tampil di Australia. Pernah juga di Singapura.

Murah dan efektif
”Ini (MySpace) merupakan media promosi yang sangat murah dan efektif buat kami. Asal betah saja di depan komputer. Biayanya paling-paling untuk akses internet,” ujar Gino, Jumat (23/5). Mereka pun rajin untuk upload klip terbaru dan aktivitas mereka di Myspace dan Youtube. Di Youtube misalnya, ada sedikitnya 8 video klip hasil posting mereka.
Informasi lengkap mengenai profil, karya, jadwal kegiatan atau pentas, informasi album dan pernik, hingga dokumentasi foto mereka tersaji di Myspace. Tidak hanya itu, layanan situs yang diakses sedikitnya 40 juta orang tiap bulan ini memberikan jasa yang memungkinkan mereka menerima komentar dan masukan dengan penggemar langsung. Profil mereka di shared hosting gratis ini telah dikunjungi 137.368 orang. Jaringan teman sebanyak 8.049 profil.
Band pengusung aliran rock and roll progresif ini jauh dari yang namanya gaptek. Bagaimana tidak, para personilnya adalah jebolan kampus-kampus top bidang teknik di Bandung salah satunya Institut Teknologi Bandung. Salah satu personilnya, Aditya Bagja, yang meraih gelar sarjana teknologi informasi dari Maranatha, merupakan sosok yang cukup berperan dalam mendongkrak popularitas mereka via dunia maya. Karena, ia sangat rajin posting dan mengembangkan situs mereka di internet.
Di internet, masih banyak layanan lainnya yang memungkinkan seseorang tenar seketika. Selain Myspace dan Youtube yang sangat populer, masih ada situs free domain (cuma-cuma) pembangun jaringan sosial lainnya yang bisa dimanfaatkan netter macam Friendster (www.friendster.com), Wordpress (www.wordpress.com), Multiply (www.multiply.com), dan Blogspot (www.blogger.com).
Ada pula yang lokal macam Live Connector (www.liveconnector.com).
Budaya tampil
Menurut Head of Digital Business PT Telkom Widi Nugroho yang juga ikut menangani Indigo (Indonesia Digital Content) fenomena pemanfaatan jaringan sosial ini berhubungan dengan munculnya budaya tampil yang dimungkinkan dari pesatnya perkembangan teknologi digital, khususnya internet.
Kalangan hobis atau komunitas tertentu dengan difasilitasi media internet, membentuk sub-sub kultur baru. Sisi positifnya, ungkapnya, fenomena budaya tampil ini merangsang tumbuhnya insan-insan kreatif pada pelbagai bidang. Pada akhirnya, akan menciptakan industri-industri kreatif baru.(Kompas Copyright/Publish @ Kompas Daily, May 24, 2008))

Tuesday, May 13, 2008

Gitar, Personafikasi Kaum Muda


Gitar, Personafikasi Kaum Muda...

(by : Yulvianus Harjono)

”Bagi anak muda atau remaja pria, gitar merupakan simbol pemberontakan terhadap orangtua dan komunitas. Menciptakan kegaduhan untuk menyatakan : inilah kami, dengarkanlah kami...” Demikian teori Alex Ross, kritikus musik terkemuka dari majalah terbitan Amerika Serikat, The New Yorker.

Lebih satu dasawarsa sejak ia mengemukakan teorinya itu. Namun, hingga kini relevansinya masih terasa. Sejak ditemukan 4 ribu tahun silam di zaman Babylonia, dari alat bernama plagues, fungsi gitar kian meluas dan dibawa ke berbagai peradaban dunia. Gitar pun kini punya banyak simbol, mulai dari pemberontakan, pengharapan, hingga alat identifikasi kaum muda.

Soraida Martinez, pelukis verdadisme asal Puerto Rico, memaknai gitar sebagai simbol pengharapan. Di tengah suasana kekacauan ekonomi di negara dunia ketiga, gitar menjadi satu-satunya alat budaya untuk menentramkan jiwa yang kehilangan harapan. ”Melodi gitar itu sendiri menyejukkan kita ketika ada pengharapan dan membayangi kita ketika tidak ada harapan,” ucapnya dalam epilog karyanya yang dibuat tahun 2003.

Pada zaman modern, gitar menjadi simbol seni dan budaya pop. Dibawa maestro-maestro dari zaman ke zaman macam Scotty Moore, Jimi Hendrix, Steve Howe, hingga Joe Satriani, popularitas gitar terus meningkat. Di Indonesia, era pop gitar terutama terasa sejak kehadiran teknologi gitar elektrik. Konser-koser yang menghadirkan Dewa Bujana, Tohpati, atau I Wayan Balawan selalu penuh sesak dipadati anak-anak muda yang tengah gandrung gitar elektrik.

”Tidak gaul kalau tidak bisa main gitar,” ucap Sandy (25), salah seorang pehobi gitar yang juga mantan anggota suatu band kampus di Bandung. Bersama band-nya, ia aktif tampil dari satu kafe ke kafe lainnya membawakan musik top fourty atau sesekali lagu pop hasil ciptaan sendiri. Gitar baginya bukanlah semata alat pergaulan, melainkan juga media untuk mencapai ketenaran, impiannya saat ini.

Feminisme pada gitar

Sugeng, pehobi gitar lainnya, punya pandangan filosofis unik terhadap alat musik melodi yang satu ini. Baginya, kehidupan sehari-hari, misalnya pacaran, layaknya gitar. ”Kalau kekencangan, bisa putus. Kalau kekendoran, justru gak ada ’nadanya’,” tuturnya di dalam sebuah weblog. Entah terpengaruh gerakan feminisme, emansipasi wanita, atau tidak, faktanya saat ini gitaris tidak lagi didominasi kaum adam.

Tidak sedikit kaum hawa remaja yang hobi menekuni gitar. Salah satunya, Astrie Kharismadewi (22), alumnus Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung. Pentolan grup band Astree and Leaves ini mahir bermain gitar akustik disamping synthesizer. Ia belajar gitar secara otodidak sejak sekolah dasar. Keponakan Andi ”Rif” ini menjadikan gitaris Rif, Magi, sebagai salah satu gurunya.

Menurutnya, gitar merupakan media untuk mencurahkan rasa, emosi, dan pikiran. ”Saya tidak bisa buat lagu kalau tidak pakai gitar. Lewat senar-senar melodi saya lebih bisa mengukur yang ada di pikiran dan menuangkannya dalam streaming (lagu),” ucap wanita yang akrab disapa Acid ini. Baginya, gitar bisa menjadi media komunikasi dengan penonton. Mengungkapkan pesan emosi ketika ia tengah marah, gundah, atau pun terlarut dengan romantisme.

Untuk menghasilkan performa yang baik sebagai alat curahan ekspresi, baginya, gitar harus diperlakukan lebih ”manusiawi”. ”Saya itu termasuk orang yang suka ngajak ngomong gitar. Berkarat atau berdebu saja, dia akan mudah sakit. Rasanya pun berbeda ketika dimainkan,” tutur vokalis Astree and Leaves yang terakhir manggung di Parijs van Java, akhir bulan lalu ini. Ia mempunyai dua gitar kesayangan, satu dari merek pakamine tahun 1995 warisan Andi Rif dan kedua dari merek Sony Akustik yang ia namai ”Carlos” yang kini tengah terbaring ”sakit”.

Lebih dari politik

Bagi mayoritas remaja pehobi gitar, musik itu jauh lebih menarik daripada politik. Gitar itu tidak berbohong dan bisa memberi empati, menghibur, publik (penonton). Hal yang langka terjadi pada hal bernama politik. ”Gitar dan musik itu lebih mudah dipahami. Sumber inspirasi dan membuat candu. Music means world (musik adalah duniaku),” ucap Acid.

Tingginya pengaruh musik, khususnya gitar, bagi remaja ini lalu dimanfaatkan kelompok tertentu sebagai strategi menyampaikan nilai-nilai luhur agama. Melalui kursus gitar, remaja diperkenalkan analogi symphoni nada-nada gitar sebagai alat harmoni dalam keluarga. Bagaimana nada-nada gitar berbeda-beda itu bisa dipadukan menjadi rangkaian harmoni yang indah layaknya pertunjukkan orkestra. Membuktikan sekali lagi, gitar itu punya seribu makna dan manfaat.(Kompas Copyright)

Minimalis, tetapi Ekspresif di Layar Lebar


Minimalis, tetapi Ekspresif di Layar Lebar

(by : Yulvianus Harjono)

Siapa yang tidak ingin jadi bintang film, sutradara, atau produser sekalipun? Asalkan punya ide, kreativitas, dan kemauan besar, tanpa perlu ikut casting, berpenampilan fisik oke, atau berbujet besar, cita-cita ini bisa dan mudah terwujud. Siapa tahu, dapat diapresiasi publik. Inilah gagasan yang melatarbelakangi lahirnya film indie.

Sejak diperkenalkan di negeri Paman Sam pada tahun 1990-an, penggiat-penggiat film indie, baik yang serius maupun sekedar coba-coba pun bermunculan. Menjadi suatu bagian sub-sub kultur yang menonjolkan ekspresionisme dan kebebasan dalam berkarya. Di Bandung, komunitas-komunitas moviemaker bermunculan di sekolah dan kampus.

Komunitas itu salah satunya After School Homework. Kelompok penggiat film yang anggotanya kebanyakan mahasiswa ini terbentuk dari ”iseng-iseng”. Dari sebuah project pembuatan film kenangan pensi di SMAN 7 Kota Bandung. ”Ketika sudah lulus, kangen ngumpul, muncul ide buat film lain,” ujar Dimas Triya (19), salah satu anggota After School Homework.

Saat ini, setidaknya sudah empat film indie yang dihasilkan komunitas itu. Salah satu karyanya, ”Teh Manis Panas”, berhasil menyabet penghargaan Film Terbaik Pilihan Penonton dalam Ganesha Film Festival (Gaffest) 2008, pekan lalu. Uniknya, pembuatan film yang mengangkat persoalan cukup berat, yaitu skizofrenia, ini hanya bermodalkan ”dengkul”.

Handycam (kamera)-nya pinjam. Yang lain, misal lighting, lampu halogen, pakai seadanya. Murah banget kok biayanya,” ucap pria yang berkostum artifisial Agus Ringgo ini saat ditemui. Teknologi dewasa ini cukup memanjakan moviemaker. Tidak perlu lagi pakai film seluloid atau kamera 35 milimeter yang mewah. Cukup pakai kamera high-definition DVD, koneksi fire-wire dan piranti lunak non-linear system editing (edit film), karya sebaik One Six Right yang dirilis di Amerika Serikat, November 2006 pun tercipta. Kocek pun terjangkau, hanya USD 300 (Rp 2,7 juta) !

”Peralatan atau kamera bukanlah segalanya. Konsep dan ide, itulah kekuatannya,” ujar Nugraha Agung Triyudanta, anggota Lembaga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung. Buktinya, film-film yang menyabet penghargaan di Giffest 2008 itu mayoritas bukan film yang digarap semiprofessional, menggunakan kamera 32 atau 16 mm. Sebut saja misalnya Peronica karya Laely Laksono atau Berikan Aku Kesempatan. Karya-karya itu mampu bersaing dengan film-film semipro garapan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

”Film dengan teknis terbaik belum tentu bisa jadi film yang baik. Jika, aspek lain yang lebih penting macam konten dan penguasaan peran, tampak janggal. Film yang baik adalah film yang mampu membawa penonton larut dalam emosi pemainnya,” ujar Aryani Darmawan, kritikus film dari Bandung.

Industri film nasional

Ia melihat, perkembangan film-film indie saat ini demikian pesat. Temanya jauh lebih luas. Tidak melulu tentang percintaan atau persahabatan. Melainkan, lebih berbobot dan berani macam persoalan psikologis, nasionalis, bahkan urban-sosial. Idealisme, itulah keungggulan nyata dalam film-film yang digarap secara indie.

”Spirit, cita-cita mewujudkan keinginan atas suatu hal yang sangat lepas, spontan, tidak terintervensi pihak lain. Kebebasan, itulah kekuatan film indie,” ujar Sutradara Film Denias John de Rantau. Menurutnya, keberadaan film atau komunitas indie secara tidak langsung ikut berkontribusi dalam pengembangan industri film nasional. Setidaknya, dari hal kekayaan ide. Memberi alternatif di tengah dominasi film bertemakan percintaan atauhoror yang meski populis, namun tidak memiliki visi.

Sineas yang mengawali karirnya dari film indie ini memberi apresiasi khusus terhadap komunitas moviemaker indie di Bandung. ”Spirit film indie Indonesia harusnya ada di Bandung. Karena festival-festival, misalnya Comfest di Jakarta, kan bermula di Bandung. Festival penting untuk menumbuhkan apresiasi,” ucap de Rantau.

Pertanyaannya kini, bagaimana peluang film indie di tengah maraknya film-film layar lebar garapan major label saat ini ? Menurut Lintang G., Bisnis Manajer Marshall Plan, salah satu distributor film indie di Indonesia, layaknya seni lukis, ekspresionisme dari idealisme seniman (pembuat film) merupakan nilai paling berharga. Hal yang sulit ditemui dari film-film major label.(Kompas Copyright)

Kopi, Cita Rasa Kaum Muda


Kopi, Cita Rasa Kaum Muda

by : Yulvianus Harjono/a15

Dewasa ini, kopi, minuman paling populer di dunia, bukan lagi sekedar pemuas dahaga. Di dalamnya terkandung hobi, simbol identitas komunal, hingga bagian gaya hidup kaum kosmopolitan. Kopi yang dulu hanya ditemui di warung pinggir jalan kini merambah ke mall hingga kafe.

Sejak pertama kali diperkenalkan di Turki, 1475 Masehi, coffee house (kafe kopi) tumbuh subur di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Makin banyak orang doyan menyeruput kopi, meski sekedar untuk teman ngobrol atau nongkrong. Di dunia, rata-rata sekitar 400 miliar cangkir kafe habis dikonsumsi tiap tahunnya.

Di Bandung, berbagai kedai, gerai dan kafe kopi pun hadir menjamur. Mulai yang tradisional nan khas macam Kopi Aroma di Banceuy hingga yang eksklusif ala franchise The Coffee Bean & Tea Leaf dan Starbucks. Beda gerai, berbeda pula cita rasa dan identitas komunal yang diperoleh. Tidak mengherankan jika kopi kini sebagai ”buruan” kaum urban.

Tengok saja di Roemah Kopi, Dago, Bandung. Meski lokasinya cukup terpencil, ini salah satu tempat favorit mereka, terutama kaum muda, yang doyan menyeruput kopi. Selain menyajikan kopi bercita rasa internasional macam espresso, cappucino atau black coffee, Roemah Kopi memanjakan pengunjung dengan berbagai varian kopi racikan.

Campuran susu segar dan rum krim pada summer wind misalnya, memberi sensasi unik. Karakter khas kopi robusta yang pahit mampu diredam cita rasa manis-lembut yang terasa mantap di lidah para pengopi pemula. Bagi yang menyukai tantangan dan keunikan jangan lupa mencicipi sunset stream. Bagaimana tidak unik, varian kopi cappuccino yang disajikan panas ini dibalut es krim vanila pada bagian toping-nya. Membuat pengunjung penasaran menghabiskan sajian yang kontradiktif ini.

Di tempat ini, tersedia 31 varian kopi racikan. Kopi campuran ini, menurut Myrna W.Irawan, pemilik Roemah Kopi, lebih digandrungi anak muda. Sementara, kopi-kopi yang reguler, murni, berasa pekat macam black coffee cenderung dinikmati mereka yang betul-betul hobi. ”Mereka ini biasanya berusia 40 tahun ke atas. Menyukai kopi dari citarasa murni dan aroma khasnya,” ujar Myrna. Di tempat ini secangkir kopi dijajakan dengan harga bervariasi mulai Rp 11.000 hingga Rp 26.000.

Internet

Fenomena kian digandrunginya kopi oleh kaum muda juga terlihat di Kafe Ngopi Doeloe, Jalan Banda, Bandung. Kafe ini terang-terangan menjadikan mahasiswa sebagai pangsa pasarnya. Italian Soda, campuran kopi espresso dengan soda dan sirup berbagai rasa, menjadi andalannya.

Variannya dibuat dengan mana-nama yang unik. Sebut saja Ice Monkey yang merupakan campuran kopi, soda, sirup pisang, mocca, dan susu atau Black Forest Coffee, campuran kopi espresso panas dengan sirup tiramisu, rum, vanila, dan mocca. Yang tidak kalah unik, pengunjung di tempat ini dapat berselancar ria di internet-fasilitas tambahan yang disediakan pengelola. Harganya pun terjangkau, Rp 8.000 hingga Rp 19.500.

Lain padang lain pula belalang. Black Canyon Coffee di Parijs Van Java sengaja mengandalkan latte art, yaitu kopi cappuccino yang ditaburi hiasan busa susu di atasnya. Hiasan berupa gambar daun, hati, bunga, atau semanggi yang membutuhkan teknik dan keahlian khusus barista (peramu kopi)-nya menjadi ”ikon” untuk menarik para konsumen muda..

Berbeda dengan kedua kafe sebelumnya yang lebih mengandalkan produk kopi lokal, kafe frenchise ini mempercayakan bahan baku dari luar. ”Kami mengunggulkan kopi arabika yang diimpor langsung dari Thailand,” ujar Sales Executive dan Marketing Black Canyon Coffee Reny Agustina sedikit memberi bocoran.

Arabika dan Robusta merupakan dua jenis kopi yang dibudidayakan dan masih digandrungi di Indonesia. Kopi arabika terkenal akan keharumannya dan kadar kafeinnya yang rendah dari robusta. Namun, jenis ini memiliki tingkat keasaman yang lebih tinggi. Harga robusta lebih murah dibanding jenis arabika. Kopi arabika rata-rata dijual Rp 50.000 per kilogram, sedangkan robusta seharga Rp 40.000 per kilogram.

Di Pabrik Kopi Aroma, biji kopi sengaja disimpan bertahun-tahun untuk mengurangi kadar keasamannya. ”Delapan tahun untuk jenis arabika dan lima tahun untuk robusta. Ini agar peminumnya tidak kembung,” ujar Widyapratama, pemiliknya. Atas dasar kekhasan itu, kopi buatan pabrik yang terletak di Jalan Banceuy ini digandrungi penikmat kopi, baik dalam maupun luar negeri. Termasuk, menjadi pemasok utama kopi mentah di Bandung.(Kompas Copyright)

Sunday, May 11, 2008

Open Source di Kalangan Muda...




Mereka yang Mandiri dan Anti-Membajak

by : Yulvianus Harjono (Kompas, November 24, 2007)

Piranti lunak atau software komputer, bagi banyak orang, bukanlah sesuatu yang asing lagi. Keberadaannya terasa vital. Tanpa software, komputer hanyalah benda kosong. Tidak bisa bekerja, apalagi menjalankan internet. Namun, hanya sedikit yang menyadari hal itu.

Apalagi, menyadari software yang digunakan itu legal atau tidak. Data Asosiasi Perusahaan Komputer Indonesia (Akomindo) menunjukkan, sekitar 88 persen perangkat komputer (5 juta unit) di Indonesia menggunakan software bajakan. Pembajakan seolah menjadi hal biasa, bahkan tren.

Hanya segelintir, dari 12 persen itu, yang kemudian mengambil alternatif lain. Yaitu, memanfaatkan open source (software berbasis kode terbuka). Sistem operasi dari open source dapat digunduh (download) dan disebarluaskan secara bebas. Karena basis kodenya terbuka, sistem operasi jenis ini dapat dimuktahirkan dan dikembangkan kapan pun maupun oleh siapa pun.

Idealisme kemandirian dan anti-pembajakan inilah yang selanjutnya menciptakan berbagai komunitas open source. Baik sekedar end user (pemakai) atau pun pengembang. Di Bandung misalnya, saat ini terdapat sedikitnya tiga komunitas umum pengguna open source, yaitu Klub Linux Bandung (KLub), Open Suse, dan Komunitas Ubuntu Bandung.

Bagi mereka, open source bukan sekedar software, melainkan juga sikap hidup, identitas dan harga diri. ”Siapa sih yang mau karyanya dibajak ? Makanya, harus kita mulai dari hal yang kecil. Menghargai karya orang lain. Kalau tidak kita sendiri, maka siapa lagi,” ujar Zahris (22), anggota KluB dan mahasiswa Universitas Ilmu Komputer.

Menurut Rolly Maulana Awangga (21), anggota lainnya, kemandirian merupakan salah satu perbedaan prinsip pengguna open source dibandingkan software proprietary (Microsoft). ”Software Microsoft hanya membuat kita konsumtif. Berbeda dengan open source yang kadang memaksa pemakainya juga menjadi pengembang. Melatih kita terus belajar,” ucap Ketua Linux User Group (LUG) STT Telkom ini.

Pasang surut

Eksistensi komunitas open source termasuk KluB ini, mengalami pasang surut seiring kondisi makro. Melonjak di masa kampanye besar-besaran terhadap HAKI dan sweeping software bajakan. Meredup (vakum) beberapa tahun kemudian. Kini, mulai kembali tumbuh seiring program Indonesia Goes Open Source (IGOS) yang telah digalakkan pemerintah dengan leading sector-nya Kementrian Riset dan Teknologi.

Ketua KluB Gian Sugiana (22) mengatakan, anggota KluB saat ini mencapai 75 orang. Itu belum termasuk yang tidak terdaftar. Mayoritas anggotanya berlatar belakang mahasiswa, terutama universitas teknik. Sebelum memiliki wadah baru di Pusat IGOS di Bandung Elektronik Mall (Be Mall), mereka biasa nongkrong di Common Room.

”Kegiatan rutin kita adalah clubbing, yaitu ngumpul-ngumpul sekalian ngoprek (mengotak-atik). Itu kalau ada distro (aplikasi) yang baru. Kalau tidak, sekedar sharing,” ucap mahasiswa STMIK AMIK Bandung ini. Kocek yang terbatas, idealisme dan rasa keingintahuan luas, menjadi unsur pengikat para anggotanya.

Study group, merupakan salah satu tujuan dari komunitas ini. Karena itu, mereka tidak membatasi diri. Keanggotaan terbuka luas. Baik sekedar konsultasi, curhat, atau belajar coding (membuat kode program). Namun, akhir-akhir ini, kampanye pemanfaatan open source menjadi kegiatan utama.

Dalam beberapa kali kesempatan, komunitas ini terjun ke sekolah-sekolah guna memberi klinik (pengenalan) penggunaan open source. Terakhir, dilakukan di SMAN 12 Kota Bandung-salah satu pilot project sekolah berbasis open source.

Kadang, memanfaatkan momentum pameran untuk mendulang uang dari hasil penjualan hasil duplikasi program, pernak-pernik, dan panduan tentang open source. Di Pameran Bnadung Com Tech lalu misalnya, dalam sehari, mereka bisa mendulang omzet RP 1 juta per hari. ”Hasilnya ? Ya buat ongkos lelah dan sebagian masuk ke komunitas,” ucap Rolly.

Berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, saat ini, banyak varian open source yang dikembangkan. Baik aplikasi server, client PC, desktop, hingga games. Di tangan komunitas open source, baik umum maupun perguruan tinggi, lahir ciptaan baru distro macam Lontong Linux ataupun Jubrix. Sudah saatnya memang, muncul tren menghargai hasil karya intelektual. Kalau tidak sekarang, kapan lagi ?(Kompas Copyright)