Showing posts with label Adventure. Show all posts
Showing posts with label Adventure. Show all posts

Sunday, July 20, 2008

Napak Tilas Sejarah Peradaban di Tahura



Wisata
Napak Tilas Sejarah Peradaban di Tahura

Berwisata sambil berolahraga tentu sudah biasa. Namun, jika bisa menambah wawasan budaya dan sejarah peradaban, itu istimewa. Keistimewaan itu dapat kita peroleh dengan berwisata salah satunya di Taman Hutan Ir. Juanda di Bukit Dago Pakar, Bandung.

Menurut catatan sejarah, kawasan yang dilindungi ini merupakan salah satu bekas situs purbakala. Di tempat ini ditemukan berbagai artefak peradaban manusia prasejarah dari zaman 6 ribu tahun silam. Masa di mana ketika Kota Bandung dan sekitarnya masih berbentuk danau purba yang dipicu ledakan gunung purba pada 11 ribu tahun lalu.

Sebagian artefak yang mayoritas berupa senjata macam kapak jasper, mata panah obsidian, hingga tombak perunggu dari zaman neolitikum ini tersimpan di museum yang berlokasi di tempat sama. Nama Pakar yang menjadi penanda kawasan di Bandung Utara diambil dari istilah ”Pakarangan” atau tempat pembuatan senjata manusia prasejarah.

Berkeliling di kawasan seluas 526,98 hektar ini, pikiran kita pun diajak berfantasi. Membayangkan suasana ribuan bahkan puluhan tahun silam yang dipancing dari berbagai artefak, benda sejarah, atau keunikan panoramanya. Jika tidak percaya, cobalah kunjungi dua obyek unggulan di tempat ini, yaitu Goa Belanda dan Jepang. Tempat yang gelap dan dingin. Sedingin mitos dan ceritanya.

Dari luar, kedua goa ini sungguh terlihat menyimpan tantangan dan misteri. Jika Anda punya cukup nyali, cobalah melangkah tanpa bantuan senter. Mengingat, tidak ada satu pun cahaya lampu penerangan di kedua goa. Jika lupa membawa senter, Anda tidak perlu khawatir. Tersedia penyewaan senter bertarif Rp 3.000 per buah. Dan, ada baiknya Anda meminta bantuan pendamping (guide) untuk berkeliling.

Bukan apa-apa. Ini untuk menghindari kita tersesat di dalam. Belum lagi, terkait potensi informasi yang didapat. Goa Belanda yang berjarak 300 meter dari pintu utama awalnya dibuat di tahun 1812. Ruangnya diperbanyak tahun 1918 dan dimaksimalkan fungsinya di 1941. Goa ini memiliki 15 cabang lorong, tiga diantaranya menghubungkan dengan pintu masuk, tinggi 3,2 meter, dan luas total sekitar 750 meter persegi.

Ruang tahanan di gua

Awalnya, gua ini didesain sebagai terowongan air untuk menggerakkan turbin di PLTA Bengkok (sekarang). Mengingat letaknya yang strategis, fungsinya dirubah sebagai pusat telekomunikasi. Lalu menjadi pusat penyimpanan senjata dan mesiu setelah diambil alih tentara Jepang. Di sini bisa ditemui ruang tahanan dan radio komunikasi. Jika memasuki ruangan-ruangan ini, sepintas tidak terbersit fungsi-fungsi itu. Karena, nyaris tidak ada ornamen tersisa. Yang terasa hanyalah udara dingin (meski siang hari) dan keheningan.

Konon, ada pula sebuah ruangan tempat penyiksaan tawanan perang. Di lorong utama (dari pintu masuk) tersedia rel untuk lori sepanjang 100 meter. Konon, kendaraan pun bisa masuk di tempat ini mengingat besarnya lorong kedua (tinggi 3,25 meter dan lebar 4 meter). Gua ini tembus ke bagian belakang bukit yang menjadi jalan potong para pelancong ke daerah Maribaya yang berjarak 5 kilometer.

Berbeda dengan gua peninggalan Belanda ini, Gua Jepang tampak lebih alamiah. Lantainya hanya terbuat dari tanah, berbentuk gumpalan-gumpalan bundar akibat proses kondensasi (pendinginan). Tingginya hanya 2,50 meter, disesuaikan dengan tinggi orang Jepang ketika itu. Konon, pembangunan gua ini menggunakan sistem romusha. Sehingga, tidak sedikit pribumi yang sakit, bahkan mati di tempat ini.

Gua yang sempat digunakan untuk shooting Film Si Buta dari Goa Hantu (1970) ini menurut cerita warga menyimpan kisah mistis pula. ”Di sini ada larangan tidak boleh bicara haneut (panas),” tutur Ajim (30), guide yang juga warga setempat. Pantangan ini sudah muncul turun temurun sejak puluhan tahun silam. Menurut Ajim, gua yang sempat menjadi tempat shooting sebuah tayangan mistis di layar kaca ini dahulu dijaga kuncen.

Sayangnya, obyek wisata ini tidak terlepas dari tindak vandalisme pengunjung. Di beberapa dinding gua, baik luar maupun dalam terlihat bekas corat-coret. Kabel dan lampu yang dulu sempat dipasang pun hilang. Padahal, obyek ini merupakan salah satu warisan sejarah.(Yulvianus Harjono)

Tuesday, May 13, 2008

Berburu Hantu di Parijs van Java


Wisata

Berburu Hantu di Parijs van Java…

(by : Yulvianus Harjono)

Bandung kota yang kaya legenda dan cerita hantu. Desas-desus yang terpelihara dari satu generasi ke generasi lainnya, puluhan hingga ratusan tahun. Mendengarnya saja dibuat penasaran hingga bulu kuduk merinding. Bagaimana jika mengunjunginya?...

Sabtu (12/4) lalu, Bandung Trails, lembaga nirlaba yang kerap menyelenggarakan wisata pusaka di Bandung menyelenggarakan acara unik bertajuk URBAN-dung Legend Walking Tour. Sesuai namanya, ini merupakan tur malam hari ke tempat-tempat misteri, legenda, dan cerita berhantu di Bandung. Rute sejauh 2,3 kilometer. Tur kedua akan dilakukan pada Sabtu (19/4) ini.

Kegiatan ini diklaim pertama kalinya dilakukan di Bandung, bahkan Indonesia. Pesertanya pun membludak. Mencapai 135 orang. Padahal, awalnya dibatasi 100 orang. Dinginnya udara Bandung malam hari tidaklah menyurutkan muda-mudi Bandung untuk ikut kegiatan ini. ”Mudah-mudahan spooky (menyeramkan),” tutur Inda Sari (27), salah seorang peserta antusias di sela-sela briefing di Taman Belitung.

Ke-130 perserta dibagi ke dalam 5 lima grup. Tiap-tiap grup jumlahnya 28 orang plus satu pemandu. Jumlahnya itu harus genap. Rian (28), tour guide Tim I berkali-kali mengingatkan, selama tur, peserta tidak boleh berkata kotor atau mengumpat di titik-titik yang dikunjungi. Pakem yang biasa disampaikan turun-temurun ketika kita mengunjungi tempat-tempat ”angker”.

Tepat pukul 19.15 WIB, Tim I berangkat dari Taman Belitung. Tidak perlu lama berjalan, hanya 10 meter dari tempat pemberangkatan, rombongan mengunjungi hot spot (titik angker) pertama, yaitu SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung di Jalan Belitung. Menurut cerita, sekolah favorit yang dulunya bernama Hooge Burgere School (HBS) ini ditunggui mahklus halus bernama Nancy.

Wanita Belanda ini dipercaya bunuh diri di sekolah itu dan kerap menampakkan diri. Orang yang berjalan di depan sekolah ini, jika ”beruntung” bisa melihat penampakan Nancy di jendela bagian atas. ”Kadang terdengar suara orang bermain piano musik klasik di ruangan (musik). Tetapi, tidak ada orangnya,” tutur Dian (23), salah seorang peserta yang juga alumnus SMAN 5 Kota Bandung.

Memandangi dari luar jendela-jendela kayu dengan temaram lampu yang kurang terang di tengah kegelapan malam hari itu sungguh memacu adrenalin kita, apalagi jika menyimak baik cerita sang pemandu. Takut-takut, sungguh melihatnya! Sebelum peserta berimajinasi berlebihan, rombongan bergerak dengan berjalan kaki ke Taman Maluku.

Di taman kota ini tersimpan Patung H.C. Verbraak, pastor Belanda yang bertugas di Aceh pada 1870 dan beberapa daerah lain. Konon, tepat di bawah monumen itu dibuat merupakan pusara dirinya. Ia tewas di tempat menyusul kecelakaan pesawat. Berdasarkan cerita setempat, patung berwarna hitam legam setinggi 4 meter ini bisa bergerak sendiri!

Kemudian, usai menyeberangi pusat keramaian di Jalan R.E Martadinata, peserta mampir ke titik misteri lainnya, yaitu di belakang (backyards) kompleks SMA Aloysius. Rian menceritakan, di suatu tempat, yaitu ruangan bawah tanah di sekolah ini merupakan bekas semacam kamp konsentrasi tentara Belanda. Digunakan tentara PETA (Perjuangan Tanah Air) untuk menyiksa tentara Belanda. Konon, ruangan ini memiliki akses tembus hingga ke Jalan Tamansari (2 kilometer dari sana).

Hantu ambulance

Yang ditunggu-tunggu, rombongan kemudian singgah ke Jalan Bahureksa No. 15. Di rumah inilah terparkir ambulance tua berbalut terpal coklat yang kini terkenal seantero Indonesia dan dijadikan ide film ”Hantu Ambulance”. Sempat muncul kejadian aneh saat shooting film ini. Ketika terpal ambulance tua itu dibuka oleh paranormal Ki Kusumo, seorang kru trance (kerasukan) dan bohlam lampu kamera pecah. Desas-desus lain yang muncul, bekas rumah kos ini merupakan tempat prostitusi. Hantu ambulance adalah alibi untuk mengelabui warga.

Di Bandung sendiri sebetulnya masih banyak terdapat titik-titik misteri lain yang menjadi urban legend. Diantaranya, rumah angker di Rancabentang, Bumi Sangkuriang, sumur keramat Sumur Bandung dan Palaguna, hingga ruang bawah tanah Museum Asia Afrika. Kebanyakan tempat ini merupakan heritage (cagar budaya) yang dilindungi.

Menurut Koordinator Bandung Trails Teguh Amor Patria, legenda dan cerita hantu itu merupakan aset kekayaan budaya intengible (tidak terlihat) kota. Di banyak negara, aset-aset ini menjadi daya tarik lain wisata. Percaya atau tidak, semua berpulang kepada rasionalitas warga. Yang pasti, cerita itu akan terus bertahan, meski dengan ”warna”-nya sendiri.(Kompas Copyright)

Sarapan Se-”Mangkuk” Bandung di Punclut


Wisata

Sarapan Se-”Mangkuk” Bandung di Punclut

(by : Yulvianus Harjono)

Pagi-pagi buta, ribuan orang telah memadati kawasan itu. Ada yang berpakaian training sambil berjogging ria, sebagian lagi asyik menjinjing tas belanjaan. Satu kesamaannya : mereka berburu sajian istimewa sarapan ”mangkuk” Bandung yang hanya satu-satunya di Indonesia.

Puncak Ciumbuleuit Utara, nama kawasan itu. Warga biasa menyebutnya Punclut. Wilayah ini merupakan dataran tertinggi terdekat di Kota Bandung. Jaraknya 7 kilometer dari pusat Kota Bandung. Atau, 3 km dari kawasan belanja Cihampelas. Letak strategis itulah menjadikan Punclut salah satu daerah wisata favorit kaum urban di akhir pekan.

Udara di sekitarnya masih sangat segar. Bahkan, jika pagi-pagi betul ke sini, kita masih bisa menikmati halimun atau kabut yang perlahan naik ke udara. Di tempat inilah pengunjung betul-betul dapat memahami, membuktikan sendiri, mengapa para ahli kerap menyebut Bandung sebagai mangkuk geografis.

Layaknya berdiri di tepi mangkuk raksasa, anda bisa melihat bebas pemandangan Kota Bandung dan pegunungan yang mengelilinginya. Menatap ke arah selatan, kita bisa melihat deretan pegunungan Malabar, Patuha, dan Waringin layaknya benteng geografis mengurung Bandung. Jika beruntung, cuaca tengah cerah, plus mata anda masih bagus, kita dapat menyaksikan landmark Kota Bandung macam Jembatan Layang Surapati dan Menara Kembar Masjid Raya Jabar di Alun-alun Kota.

Dan, semua itu bisa dinikmati secara gratis! Berbeda dengan kawasan Bukit Dago Pakar yang sudah dikapling (dimiliki) pengusaha, baik restoran atau cafe. Di Punclut, ada beberapa spot yang strategis untuk melihat pemandangan. Antara lain, di tebing Tanjakan Punclut, tebing Pemancar RRI, dan ladang jagung di kanan jalan (300 meter setelah RRI). Namun, tentunya tidak nikmat jika menyaksikan pemandangan dengan perut kosong.

Saatnya sarapan sesungguhnya. Di sepanjang Jalan Punclut (Bukit Raya), banyak warung yang menyajikan makanan khas. Salah satunya, nasi timbel. Uniknya, nasi yang disajikan ini bukan seperti biasanya. Melainkan, terbuat dari beras hitam, kadang merah. Keistimewaan nasi gurih yang didatangkan dari Subang ini adalah memiliki karbohidrat yang rendah. Sehingga, baik bagi penderita diabetes.

Variasi pepes

Pada lauknya, sajian beragam jenis pepes, mulai dari teri, tahu, oncom, ayam, jamur, belut, sampai jengkol dijamin bakalan mengundang selera dan rasa penasaran. Harganya terjangkau. Nasi hitam dijual Rp 3 ribu per porsi, sementara pepes mulai Rp 1.000 hingga Rp 6.000. Jika berniat menjadikannya oleh-oleh, beras merah bisa dibawa pulang dengan harga Rp 10 ribu per kg. Penganan khas lainnya, yaitu keripik punclut dari singkong, ubi, pisang dan talas beraneka rasa seharga Rp 4 ribu per kg.

Wisata tidak hanya berhenti di sana. Jika anda hobi jogging atau suka berolahraga ada baiknya melanjutkan perjalanan melalui track curam, menanjak, hingga ke Lembang sejauh 10 km. Atau, melewati Cipicung Hilir dan tembus ke Dago Pakar. Jika malas jalan kaki, bisa memakai jasa kuda tunggang dengan tarif Rp 10.000. Atau, justru ingin cicipi ATV (all terrain vehicle) ? Tepat di samping Pemancar RRI terdapat Rental ATV dengan tarif sewa cukup Rp 5 ribu per putaran. Tidak jauh dari situ, pengunjung bisa menonton kebolehan crosser-crosser IMI Jabar yang berlatih di trek khusus seluas 1,5 hektar.

Kepuasan tentunya tidak lengkap tanpa menyempatkan diri berbelanja. Seminggu sekali, tiap akhir pekan, ratusan pedagang kaki lima dari berbagai penjuru dan sentra di Bandung berjualan di sepanjang Jalan Bukit Raya. Alhasil, jalan yang hanya seluas 3-5 meter itu penuh sesak pedagang dan pengunjung. Barang yang dijajakan itu beragam. Ala Gasibu (depan Gedung Sate) tiap Minggu pagi. Ada pakaian, tanaman hias, sepatu, DVD, jam tangan, barang-barang elektronik, peralatan rumah tangga, tanaman hias, kelinci dan marmut, hingga sayur-sayuran. Ada pula penganan khas macam oncom goreng, bandrek, galendo (olahan kelapa), pisang goreng raja, surabi, dan tutut. Harganya pun merakyat, Rp 500 sampai Rp 25.000.

Pendek kata, Punclut merupakan ”one stop” wisata. Satu tempat, beragam pesona. Dan yang pasti, murah meriah. Menjadikannya pusat wisata bagi berbagai kalangan, tidak hanya milik kaum berduit.(Kompas Copyright)

Sunday, May 11, 2008



Wisata

Berpetualang di Rimba Budaya-Panorama

by : Yulvianus Harjono

Aroma menyegarkan bungasari pinus meksiko (pinus montecumae) tercium. Harumnya mengalahkan parfum apa pun. Sayup-sayup terdengar perenjak jawa (prinia flaviventris) berkicauan seolah mengajak pengunjung masuk lebih dalam.

Suasana hutan belantaraini dapat kita temui di Taman Hutan Raya Ir. Djuanda, Lembang. Tempat yang dijuluki ”surga” bagi para penyuka hobi petualangan, tracking, botanis, dan geologis. Keindahan panorama alam dan air terjun di tiga titik berbeda layak dikunjungi para wisatawan.

Kawasan seluas 526,98 hektar ini bukan hanya tempat konservasi flora dan fauna, melainkan juga situs arkeologi dan prasejarah. Jika anda berkunjung ke sini, jangan kaget jika menemui museum berisi berbagai artefak macam kapak batu hingga mata panah. Wilayah yang terletak di Cekungan Bandung ini merupakan salah satu situs prasejarah.

Jika itu belum cukup merangsang keingintahuan kita tentang sejarah, mampirlah ke Gua Jepang, 400 meter dari museum. Atmosfirnya dingin dan gelap, sekelam nasib pribumi yang terkena kerja paksa (romusha)-pembuat gua seluas 350 meter persegi dan memiliki 4 pintu dan tiga lorong itu. Gua yang dibuat tahun 1942 ini merupakan tempat persembunyian tentara Jepang dari Sekutu.

Petualangan sejarah-budaya tidak berhenti hanya di situ. Sekitar 300 meter timur laut dari sana, kita akan menemukan gua buatan lagi. Kali ini, Belanda-lah pembuatnya. Gua yang strukturnya dibuat tahun 1941 ini ketika itu difungsikan sebagai pusat stasiun radio telekomunikasi militer Belanda. Jika anda berani, coba telusuri ruang interogasi dan sel tahanan di salah satu sudut gua ini dengan penerangan secukupnya. Dijamin, bakal muncul sensasi yang menegangkan.

Perasaan lega muncul begitu keluar dari gua, seiring terlihatnya kembali cahaya matahari. Namun, jangan buru-buru membuang peluh. Petualangan belum berakhir. Kali ini, persiapkan bekal secara matang. Air mineral, makanan ringan, dan jangan lupa, kencangkan tali sepatu tracking anda. Karena, petualangan berikut ini tidak akan kalah mendebarkan.

Hanya dengan tiket masuk senilai Rp 3.000 per orang, anda bisa menikmati pula petualangan tracking ria sambil mengamati panorama alam di sekitar Tahura Ir. Djuanda. Jika punya fisik yang baik, jangan ragu-ragu melewati rute jogging track Pakar-Maribaya ke arah utara sejauh 6 kilometer. Perlu dicatat, nyaris tidak ada satu pun penjaja makanan di sepanjang jalur track. Kecuali, saung-saung kosong tempat istirahat. Maka, perlu bekal memadai.

Pacu adrenalin di jembatan

Di sepanjang jalan, kita bisa menikmati gemericik air sungai bersahut-sahutan dengan kicau jalak suren (sturnus contra) atau perkutut (geopelia striata). Sesekali akan terdengar pula gonggongan anjing kampung menyalaki kera-kera ekor panjang (macaca fascicularis) yang memunguti remah-remah makanan pengunjung. Jika anda beruntung, sesekali terlihat spesies dilindungi elang ular bido (spilornis cheela).

Menyusuri jalan setapak yang kadang berupa paving block sesekali tanah becek memang tidaklah mudah. Namun, peluh atau tumit kaki yang lecet tidak akan sebanding dengan apa yang didapat, yaitu pemandangan air terjun Curug Omas Maribaya. Segala rasa letih dan haus akan sirna tatkala percikan air terjun yang mengalir deras membasuh muka dari kejauhan.

Jika sudah sampai di siini, jangan lewatkan kesempatan menyeberangi jembatan gantung berwarna kuning persis di bawah air terjun. Perlu nyali besar melewatinya sambil memandang ke bawah. Adrenalin dijamin bakal mengalir sederas aliran air terjun setinggi 30 meter !

Menikmati jagung bakar ditemani kopi hangat setelah berendam di kolam air panas Maribaya, Lembang, yang letaknya hanya 200 meter dari Curug Omas bakal menjadi penutup yang sempurna petualangan akhir pekan anda di Tahura Djuanda.

Jika belum juga puas, silahkan berbalik ke puncak bukit di arah tenggara untuk melihat sebuah mahakarya pencipta bernama Patahan Lembang. Sebuah ngarai menakjubkan yang konon mengancam jutaan warga Kota Bandung manakala terjadi gempa besar di wilayah ini.

Selayang Pandang

Taman Hutan Raya Djuanda merupakan satu-satunya hutan kota di Kota Bandung. Bisa dikatakan pula sebagai taman hutan raya yang pertama di Indonesia. Diresmikan pada 14 Januari 1985 oleh mantan Presiden Soeharto. Taman hutan yang namanya diambil dari tokoh pahlawan asal Jawa Barat asal Tasikmalaya Ir. Djuanda ini merupakan aset tidak ternilai bagi Indonesia, khususnya Kota Bandung.

Selain penyangga resapan air, daerah yang terletak di ketinggian 700-1.300 meter di atas permukaan laut ini merupakan ekosistem dari berbagai flora dan fauna, baik yang endemic maupun tidak. Berdasar hasil inventarisasi per 2003, tercatat sedikitnya 9 fauna khas di tempat ini, antara lain burung kacamata (zoeterops palpebrosus) dan bondol jawa (lonchura leucogastroides). Ditemukan pula 112 spesies tanaman dari 40 famili.

Tempat ini juga merupakan obyek cagar budaya. Sebagai situs purbakala dan prasejarah. Di tempat ini ditemukan sejumlah artefak dan berbagai prasasti, salah satunya Prasasti Thailand, yang ditemui di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Cikapundung. Pada zaman penundukkan kolonial Belanda dan Jepang, wilayah Tahura Djuanda ini menjadi benteng perlindungan mereka.

Kawasan yang masuk wilayah Perum Perhutani ini secara operasional dikelola otorita Balai Pengelolaan Tahura sejak 2003. Saat ini, terdapat sedikitnya 11 titik andalan wisata di tempat ini termasuk Gua Jepang dan Curug Lalay. Di musim penghujan, hutan ini kerap terkena longsor. Sehingga, di sejumlah titik tebing, termasuk lintasan jogging track terpaksa diberi beronjong atau penahan.

Tahuran Ir. Djuanda saat ini memiliki empat buah pintu masuk. Masing-masing di PLTA Dago, Bukit Pakar (dua buah), dan Maribaya. Wilayah hutan ini terinterkoneksi dengan sejumlah obyek wisata lainnya macam Maribaya, Ciater, dan Tangkuban Parahu. Selain mes dan panggung, Tahura Djuanda juga memiliki fasilitas pendukung lainnya macam kolam, taman bermain, dan lapangan tennis.(Copyright On Kompas)

Menikmati Warisan Hijau di "Kota Taman"


Menikmati Hijau di Warisan ”Kota Taman”

by : Yulvianus Harjono (Kompas Daily, Desember 15, 2007)

Pada masa lalu, Bandung tergolong kota paling hijau lestari se-Nusantara ini. Meminjam istilah Sir Thomas More (1516), kota ini patut dijuluki ”kota taman”. Bandoeng Vooruit-perkumpulan arsitek, perancang kota dan penata kebun bahkan menjadikan kota kembang ini sebagai laboratorium taman tropis Indonesia.(Haryoto Kunto,1986)

Pada 1930-1935, taman-taman kota di bandung disulap sebagai mini botanical garden, layaknya Kebun Raya Bogor yang banyak. Tengok saja sisa warisannya macam Taman Lalu-Lintas (Insulindepark), Taman Maluku (Molukkenpark), Taman Pramuka (Oranjeplein), dan Taman Ganeca (Ijzermanpark). Cukup jadi bukti julukan kota taman sempat eksis, tidak merujuk konsep lalu-lintas jalan semata.

Ketika itu, Bandoeng Vooruit lewat maestro Hendrik Petrus Berlage merumuskan taman sebagai public domain. ”Oase dalam kota. Terbuka. Tempat warga berleha-leha sejenak, mengakrabkan diri dengan alam atau sekedar mencari ilham,” demikian tulis sang kuncen Bandung Haryoto Kunto dalam buku ”Semerbak Bunga di Bandung Raya”.

Lewat hampir seabad kemudian, fungsi taman dan ruang terbuka hijau (RTH) di kota ini tidak banyak berubah. Tidak hanya udara segar, melainkan juga menyokongi berbagai perikehidupan manusia yang ada di sekitarnya. Satu persatu taman kota berganti fungsi atau hilang. Namun, satu demi satu pula bermunculan yang baru.

Taman Cilaki, formalnya disebut Taman Lanjut Usia, salah satunya. Taman yang dibuat tahun 1983 berkat usaha patungan para pengusaha di Jabar ini tidak hanya menjadi paru-paru kota terdekat simbol pemerintahan di tatar priangan ini, melainkan juga tempat berkumpulnya lintas-generasi dan golongan yang melakukan beragam aktivitas.

Coba tengok saja tiap pagi, pukul 05.00 – 10.00 WIB. Jompo, ABG, kaya, miskin, pengusaha, gelandangan, botanikus, peneliti, siswa bolos sekolah, semua ada di sini. Bagi mayoritas warga, Taman Cilaki dikenal tempat favorit berjogging ria. Akhir pekan, jadi ”surga” pengail rezeki macam pedagang pasar kaget, penjaja makanan, hingga penyewa kuda tunggang.

”Mau tahu empat rahasia sehat ? Turuti anjuran dokter dan jangan lupa minum obat. Serta, olahraga teratur dan hilangkan stres. Nah, dua dari rahasia itu bisa kita dapat dari tempat ini,” ucap Herman Surjadi (70), pengunjung Taman Cilaki bijak. Herman bisa dibilang sebagai kokolot di taman ini.

Hampir tiap hari ia rutin ke sini. Menikmati udara segar bersama rekan-rekannya dan ngobrol ”ngalur ngidul”, bisa membuatnya lupa sejenak akan umur atau kondisi jantungnya yang telah di-by pass. ”Di tempat ini, entah kenapa, meski saya jogging lama, kok tidak pernah terasa capek. Apalagi, ada variasi tanjakannya di trek ini, ujar Agus Kostaman (43), pengunjung lainnya.

Riva Amira (23), mewakili kaum muda, menepis anggapan public space macam Taman Cilaki itu identik dengan lansia. Karena, sama-sama membutuhkan udara segar dan kesehatan. Dua fasilitas yang disediakan di tempat ini. ”Daripada treadmill, saya jauh lebih suka ke sini. Oksigen segar ini belum tentu ada di tempat lain,” tutur cewek indo berparas cantik ini.

Terapi ”Stroke”

Udara segar, pemandangan hijau, dan ruang lapang yang disediakan RTH ternyata juga berkhasiat memberi efek stimulus terapi stroke. Di pagi hari, di sebuah sudut yang banyak terdapat bunga kana (canna indica) berwarna kuning dan merah jingga serta tanaman hias lainnya pada Monumen Tegallega, akan kita jumpai para penderita penyakit pembunuh no.1 di dunia ini berjuang mengatasi kelumpuhan.

Salah satunya, Gatot Prana Jaya (68), pria berkusi roda yang lumpuh bagian otak kanan-nya (saraf motorik kiri). Isterinya, Fransiska (66) sengaja membawanya ke tempat itu dengan harapan agar Gatot termotivasi mengatasi kelumpuhannya.

”Sebab, di tempat ini, banyak kenalan baru yang sebagian juga pernah terkena strok. Mereka sering memotivasi dan juga memberi masukan. Tidak sedikit yang lumpuh bisa jalan kembali,” ujarnya.

Patut dicermati, berdasarkan penelitian, per hektar RTH yang ditanami pepohonan keras atau rindang mampu memasok 240 kg oksigen udara. Jika tiap orang membutuhkan oksigen 1,5 kg per harinya, bisa dibayangkan berapa ratus hektar idealnya RTH yang kini dibutuhkan ?

Mengingat, Bandung kini kian heurin ku tangtung dengan populasi 3 juta orang. Saatnya mengembalikan citra Bandung sebagai kota taman paling lestari !(Kompas Copyrigtht)